Minggu, 29 April 2018

Penyejuk Hati

ANTARA KEPUASAN DAN KESYUKURAN

Sering kita dengar bahwa sudah fitrah manusia menjadi makhluk yang tidak pernah merasa puas, dan selalu merasa kurang dalam hidupnya. Ketidakpuasan seringkali diidentikkan dengan sikap tamak, rakus dan serakah. Sehingga kita pun akhirnya beranggapan bahwa rasa  tidak puas sama dengan manusia yang tidak pernah bersyukur. Sepertinya tidak bisa dikatakan bahwa tidak puas sama dengan tidak bersyukur. Dan dua hal itu jelas berbeda. Syukur adalah suatu bentuk rasa terimakasih dan pengakuan kita atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, sedangkan puas adalah suatu perasaan senang, lega, gembira, kenyang, dan sebagainya karena sudah terpenuhi kemauan hatinya. Bersyukur kepada Allah SWT bukan berarti kita harus berpuas diri ataupun merasa cukup sampai di situ saja. Sekarang masalahnya adalah, seringkali rasa tidak puas yang harusnya dijaga untuk menjadi pemacu semangat justru tak terkendali hingga menjadi sifat-sifat yang merusak. Iri, dengki, tamak, rakus, serakah, semua sifat itu muncul karena kita tidak dapat mengendalikan diri akan perasaan tidak puas yang ada di hati kita. Bukannya mengambil energi positif dari perasaan tidak puas agar kita lebih giat dalam berikhtiar, kita justru dibutakan olehnya.
Lalu bagaimana caranya agar kita tidak dibutakan perasaan tidak puas?
Caranya adalah dengan selalu bersyukur  dan mengingat Allah SWT. Allah berfirman di dalam surat Az-Zumar ayat 66 :
بَلِ اللَّـهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنَ الشّٰكِرِينَ 
“Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”
Adapun ketidakpuasan berubah menjadi dengki dan iri hati karena kita lupa bersyukur. Saat melihat atau mengetahui kelebihan orang lain, kita malah mengeluh dan menganggap Allah tidak adil, melupakan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Sebaliknya jika kita selalu mensyukuri segala nikmat-Nya, kita justru dapat menjadikan perasaan tidak puas sebagai pemacu bagi kita untuk berlomba-lomba meraih kebaikan. Tidak mau kalah dari orang lain dalam meraih cinta dan ridha Allah. Dalam hadist riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)

Maka dari itu, jangan pernah merasa puas dengan keadaan kita sekarang, kita harus terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Jadikanlah perasaan tidak puas itu sebagai alasan untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidup kita, bukan malah dibutakan olehnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar